Rindumu dan Rinduku

“Rinduku padamu sebesar banyaknya rindumu yang dibagi dengan nol. Bagai semesta yang tak bertepi dikali dua.”
     Maaf aku tak mengerti dengan pengandaianmu. Jika maksudmu rindumu adalah tak terbatas maka aku lebih tak paham lagi. Aku mungkin memang tak pernah bisa mengerti dirimu yang berlebihan selalu. Baris-baris sajak yang kau kirim hanya membuatku makin tak percaya denganmu.
     Jika kerinduanmu sebesar semesta yang tak terbatas maka ia mengada di tiap titik-titik atom, ia mengada di mana saja, tak pernah tiada. Maka bukankah sesuatu yang selalu mengada sama saja tak pernah ada. Ingatkah aku pernah bilang padamu, ada adalah tiada begitu juga sebaliknya.
     Kamu bilang rindumu sebesar semesta, tapi kau belum sempat bernafas hanya untuk mengeja kata rindu itu. Jika rindumu sebesar semesta ia memang pasti melingkupiku, rindumu adalah bagian diriku, yang mengisi paru-paruku tiap waktu, tapi dengan  begitu rindumu juga bagian dari semua orang. Karena dirimu hanya ada satu yang mungkin bagiku tak pernah mati, tak pernah menjadi dua atau nol. Tapi kamu tak pernah menjadi sebesar semesta begitu juga rindumu.
     Aku juga tak tahu adakah orang yang bisa merindu hingga tak terbatas seperti kamu-katamu. Andai kamu merindukanku 86.400 kali tiap harinya, yang mana 1 rindu/detik itupun belum mampu mendeskripsikan semesta. Dan bicara tentang semesta adalah bicara kekekalan. Adakah rindu seseorang adalah sesuatu yang kekal? Sebuah alfa dan omega. Adakah kamu telah merinduku di nafas pertama yang kamu ambil? Akankah kamu tetap merinduku saat kamu tiada nanti?
     Kamu bilang rindumu padaku tak terbatas, analogimu itu sungguh melukaiku. Adakah kamu merinduku biarpun kala aku ada di sisimu? Kenapa kamu bisa merinduku seperti itu? Adakah sesuatu dari diriku yang hilang dan berubah sehingga kau terus-terusan merindukan diriku yang lalu? Mungkin kamu memang tak pernah puas dengan diriku atau mungkin ada sesuatu yang membuatmu merasa kehilanganku tiap hari, tiap detik. Ya aku tahu perasaan seperti itu. Tapi tetap saja, jika kamu mengandaikannya dengan jumlah rinduku yang dibagi dengan nol, seolah-olah aku tak pernah merindumu, itu salah.
     Kerinduanku memang tak sebanyak kerinduanmu yang tak terhitung dan selalu membuat kalkulator error itu. Tapi rinduku, meski tak sebesar semesta, ada dan nyata. Baris kerinduanku tidak akan pernah seindah baris sajakmu yang tak masuk akal itu. Karena rinduku padamu hanya sekedar; Kerinduan kakek yang mencecap pahit kopinya akan rokok kretek yang tak mampu lagi ia beli. Kerinduan ibu rumah tangga yang televisinya digadaikan suaminya akan episode terakhir Cinta Fitri. Rinduku padamu hanya sebanyak tetes air hujan dari plafon kamarku yang bocor kala kesunyian memburu dan yang bisa terdengar hanya tetesan air yang mengetuk dasar ember tadahan, suara musik di radio tak terdengar, dan aku tak lagi bisa berkonsentrasi membaca kalimat-kalimat di bukuku lagi. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, tidurpun tidak, karena ember tadahan itu ada di atas kasurku. Yang bisa kulakukan hanya mendengar tetes air itu sambil menyelimuti diriku dan menikmati tiap detiknya.
     Kerinduanku padamu hanya seperti hal-hal kecil dan sederhana seperti itu. Mungkin hal-hal yang bagimu tak pernah begitu penting. Tapi itu ada dan manusiawi. Dan tidak pernah sebesar semesta. Apalagi dikali dua. :)

#Gambar dari komik Blankets karya Craig Thompson dan tulisan ini hanya iseng dan sebagai guyonan belaka. Haha. Untuk kamu, ya kamu, yang tersindir baca ini. Hehe peace! :P