
Akhir-akhir ini saya entah kenapa sering kesulitan untuk bernafas. Dada sesak dan mual. Untuk pertama kalinya dada saya sesak bukan karena jatuh cinta tapi karena sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan tubuh saya, entah apa. Bau-bau menyengat yang selalu memicunya; asap rokok dan segala jenis asap, ruang sempit yang sedikit udaranya, pasti akan membuat saya kesulitan bernafas. Asap rokok, ya Tuhan, saya ini merokok tapi tidak betah dengan asapnya. Apa ini akibat dari merokok? Saya mulai aktif merokok belum ada 1 tahun (saya merokok sejak lulus SMA, tapi jarang-jarang, baru mulai setahun yang lalu saya tidak bisa melewatkan 1 hari tanpa rokok). Tidak, ini bukan karena itu. Pasti bukan itu. Semoga bukan. Dan sekarang, merokok pun hanya jadi kegiatan untuk memuaskan rasa ingin saja, jarang sekali bisa menghabiskan 1 batang. Hari-hari bahagia seperti dulu, di bawah matahari minggu sore, cola dingin tak jauh dari jangkauan, Nat King Cole mengalun keras-keras, novel ringan di pangkauan, asap rokok yang melambai-lambai mengabarkan indahnya dunia dikebulkan perlahan oleh bibir yang tidak menyapa seorang pun seharian. Hari seperti itu makin jarang terjadi. Karena kenikmatan hidup itu akan segera diinterupsi perut yang mual ingin muntah, batuk-batuk kecil, dan pikiran kecil yang berkata, “kamu takkan pernah bisa bernafas lagi dengan mudah.”










