Home

Will you wake me when we’re almost halfway
I don’t wanna take this trip alone
Cause I’d never reach my home
No, I’d never reach my home
Malam itu saya baru pulang dari Medan dan leyeh-leyeh mengistirahatkan badan di kasur setelah sebelumnya mematikan lampu, menyalakan rokok dan ipod, dan terdengarlah lagu dari Villagers yang berjudul Home. Di kamar yang gelap hanya terlihat asap rokok yang membumbung itu saya merenungi kenyataan bahwa saya jauh sekali dari rumah. Bukan homesick, saya tidak begitu kangen dengan keluarga juga rumah. Yang saya rasakan malam itu hanya suatu kesadaran akan fakta yang sering saya lupakan bahwa saya sekarang benar-benar sendiri. Dan yang buat saya paling sedih adalah fakta bahwa tak ada rumah yang dirindukan. Suatu kesendirian mutlak, tak ada yang dirindukan, tak ada yang dituju. Malam itu saya menyadari bahwa layaknya pengembara saya tidak punya apa-apa bahkan untuk secuil rasa rindu pada kehangatan rumah dan tanah kelahiran. Natal dan tahun baru kali ini pun akan saya habiskan di perantauan dengan melihat kegembiraan orang-orang yang tidak saya kenal. “I don’t wanna take this trip alone. Cause I’d never reach my home. No, I’d never reach my home.”










