Beberapa hari ini saya seperti tak punya motivasi untuk menjalani hidup. Sepertinya hidup itu hanya berisi berbagai macam seri dari kepedihan dan hal-hal menyakitkan. Semua hal begitu menyebalkan dan bodoh. Tak ada yang menginspirasi, tak ada yang diapresiasi. Apa bagusnya hidup ini jika udara yang kita hirup hanya berisi penyesalan akan yang lalu dan yang nanti.
     Kemarin saya teringat sebuah adegan yang sangat indah di film karya Wim Wenders, Der Himmel uber Berlin. Saya pun menonton adegan itu lagi dan terhenyak (untuk sekali lagi). Adegan itu menggambarkan sebuah kecelakaan lalu lintas, si korban yang sekarat tergeletak dengan punggung bersandar di trotoar sambil komat-kamit dan kita bisa mendengar suara-suara tidak jelas di kepalanya, semua penyesalan dan keluhannya. “Aku seharusnya memberitahunya kemarin kalau aku menyesal,” pria malang itu berkata pada dirinya sendiri. Damiel, tokoh utama di film ini yang seorang malaikat, berlutut di belakang pria sekarat itu, memegang kepalanya dan berbisik padanya, “Saat aku mendaki gunung, keluar dari lembah berkabut menuju ke matahari. Api di peternakan, kentang dalam abu, rumah perahu mengambang di danau. The Southern Cross. The Far East. The Great North. The Wild West. The Great Bear Lake. Tristan da Cunha. The Mississippi Delta. Stromboli. Rumah tua Charlottenburg. Albert Camus. Cahaya pagi. Mata kanak-kanak,” pria sekarat itu pun mulai menyebutkan dan mengikuti apa yang dikatakan Damiel Sang Malaikat, “Berenang di air terjun. Bercak dari tetes pertama hujan. Sang Surya. Roti dan anggur. Meloncat. Paskah. Jari-jari daun.” Damiel dan pria sekarat itu menyebutkan hal-hal sederhana yang indah, hal-hal kecil di hidup ini yang membuat semuanya terasa berharga.
     Mungkin hidup itu memang harus dimaknai demikian, hidup menjadi berharga bukan dalam hal seberapa banyak hal-hal besar yang kita capai tapi seberapa banyak hal-hal kecil yang mampu kita syukuri. Jika tuhan itu ada saya membayangkan tuhan semacam Damiel yang bersimpuh di sisi kita yang sedang sekarat dan mengingatkan akan begitu banyaknya hal yang membuat hidup kita menjadi bermakna dan indah. “Rumput bergoyang tertiup angin. Warna bebatuan. Kerikil di pinggir sungai. Taplak putih di rerumputan. Mimpi rumah di dalam rumah. Yang terkasih tidur di kamar sebelah. Minggu malas yang damai. Cakrawala. Cahaya dari taman. Penerbangan malam. Mengendarai sepeda lepas tangan. Orang asing yang cantik. Ayahku. Ibuku. Istriku. Anakku.”